Batu atau kayu mungkin bisa mematahkan tulangku, tetapi kata-kata akan lebih berbahaya dalam menyakiti.

Pernahkah kamu enggan membicarakan topik dengan pasangan kamu karena itu pasti akan mengarah pada teriakan dengan kata-kata kasar dan membanting barang?

Pernahkah kamu mengatakan sesuatu di tengah-tengah percakapan yang secara tidak sengaja (atau, mungkin, dengan sengaja) membuat marah pasangan kamu?

Pernahkah kamu meninggalkan percakapan dengan perasaan mengganjal, tidak percaya, salah paham, atau tidak diselesaikan sama sekali? Kamu tidak sendiri; komunikasi dan penyelesaian konflik memang butuh perjuangan. Rasanya sulit menerima bahwa 40-50% pernikahan berakhir dengan perceraian di Amerika Serikat menurut American Psychological Association.

Kurangnya komunikasi hanyalah bagian dari persamaan hubungan yang gagal. Terkadang cara kamu berkomunikasi (atau tidak berkomunikasi) adalah penyebab konflik yang sebenarnya.

pssst, kalimat-kalimat ini yang sering menyulut emosi perempuan sudah kami rangkum menjadi 3 kata pemicu umum yang mungkin membuat pasanganmu sakit hati lebih tanpa kamu sadari, dan juga saran yang bermanfaat untuk meningkatkan pilihan kata dalam berkomunikasi kepada pasanganmu.

  1. “Selalu / Gak Pernah”

“Kamu selalu lupa bawa kunci. Padahal sudah aku ingatkan. ”

“Kamu gak pernah mau tiap aku ajak ke tempat itu. Lalu untuk apa aku menanyakan lagi. ”

Ini mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi kata-kata ini memiliki pemaknaan yang dapat membuat pasangan kamu merasa seperti kamu menyerang kepribadian mereka secara luas daripada insiden atau masalah yang terpendam.

  1. “Tenang”, “santai aja.” “gampanglah”, “Jangan terlalu sensitif.”, atau “Sikapmu berlebihan.”

Memberitahu pasangan kamu untuk tenang menyindir bahwa respons emosional mereka dalam suatu situasi entah bagaimana salah. Ingat, perasaan pasanganmu adalah perasaan pasanganmu – bukan perasaanmu. Pasanganmu memiliki hak untuk mengekspresikan emosi apa pun yang mereka alami tanpa penilaian, kritik, atau interpretasi dari luar.

  1. “…seharusnya”

“Kamu seharusnya membeli melalui ifreeindonesia.com minggu lalu. Sekarang sudah terlambat. ”

Menyalahkan pasanganmu karena mengabaikan menyelesaikan tugas penting, bagaimanapun, dapat menyebabkan mereka merasa gagal. Perasaan gagal menumbuhkan perasaan kalah, bersalah, dan defensif.