Seluk Beluk Kuping Kelelawar Yang Jarang Diketahui

353 views

Kelelawar menemukah jalannya dengan jalan lokasi gaung (echo-location): mereka memancarkan pulsa-pulsa suara dan kemudian membangun suatu citra mengenai dunia dari gaung yang kembali. Tetapi hal itu tidak menje-laskan secara tepat bagaimana kelelawar itu menggunakan gaung tersebut. Istimewa, dengan hanya dua buah detektor (telinga), bdgaimana mereka dapat mendengarkan informasi tiga dimensi? Dua telinga dapat memungkinkan lokalisasi kanan kiri dengan membandingkan sifat-sifat suara yang datang pada masing-masing telinga, tetapi kelelawar mampu mendeteksi posisi atas-bawah juga. Percobaan-percobaan yang dilakukan oleh Zoltan Fuzessery dan George Pollak dari Universitas Texas di Austin, menyatakan bahwa telinga luar atau pinna, mengubah (memodifikasi) gaung yang kembali untuk memberikan informasi tentang posisi vertikal.

Pinna merupakan klakson pengumpul, tetapi ia juga mengubah spektrum harmonik dari suara yang ia salurkan ke gendang pendengar. Tenaga maksimum mencapai gendang telinga, bisa satu sumber terletak pada apa yang dinamakan sumbu akustik dari telinga, tetapi pengaruh pinna berarti bahwa posisi dari sumbu akustik berbeda untuk frekuensi yang berbeda. Hal ini dapat memberikan informasi atas bawah, tetapi hanya apabila otak dapat memroses kekerasan suara yang dirasakan pada frekuensi yang berbeda-beda. Satu gaung di mana satu frekuensinya lebih keras daripada yang diharapkan, akan kembali dari suatu benda dekat sumbu akustik untuk frekuensi bersangkutan.

Kelelawar kumis Pteronotus parnellii, merupakan subyek yang sangat bagus untuk penelitian serupa itu, karena pulsa-pulsa lokasi gaungnya mengandung tiga harmonik yang berbeda pada 30 kHz, 60 kHz, dan 90 kHz. Fuzessery dan Pollak mengukur kepekaan arah (directional sensitivity) dari telinga kelelawar terhadap suara pada tiga frekuensi ini. Mereka menemukan bahwa sumbu-sumbu akustiknya berada pada posisi yang sangat berbeda. Untuk nada 30 kHz daerah yang paling peka agak menyebar dan membentuk satu palang yang terentang dari garis tengah di bawah kelelawar keluar ke arah horison di sisi-sisinya. Nada-nada 60 dan 90 kHz mempunyai daerah peka yang lebih berlainan : nada 60 kHz pada horison dan ke satu sisi, nada 90 kHz lebih rendah ke bawah dan lebih dekat ke arah kelelawar itu terbang. Perbedaan antara kedua telinga untuk frekuensi yang berbeda-beda bahkan menghasilkan diskriminasi yang lebih  tajam,  terutama untuk nada 30 kHz.

Apakah kelelawar menggunakan semua informasi ini? Fuzessery dan Pollak beranggapan bahwa kalau demikian halnya, maka harus terdapat neuron pendengaran yang dicocokkan (ditune) kepada masing-masing dari ketiga frekuensi dan peka terhadap perbedaan energi suara antara kedua telinga. Untuk menguji pendapat ini, mereka memeriksa colliculus inferior dari otak (colliculus inferior = penonjolan kecil di bagian belakang otak tengah, yang mengandung pusat-pusat refleks. untuk menanggapi suara). Mereka justru menemukan apa yang mereka harapkan – tiga perangkat neuron yang peka secara maksimal terhadap suara dari lokasi tertentu.

Bagaimana sesungguhnya kelelawar mendengarkan dan menyandingkan informasi spatial (ruangan), masih harus dicari penjelasannya.

Tags: #Kelelawar #Kuping #Seluk Beluk

Leave a reply "Seluk Beluk Kuping Kelelawar Yang Jarang Diketahui"

Author: 
    author