Mengenal Teknologi Penghancur Batu Di Saluran Kemih

381 views

teknologi-penghancur-batu-di-saluran-kemihMemiliki batu di saluran kemih sangatlah mengganggu. Selain rasa sakit, kelainan tersebut mengakibatkan dampak lanjutan jika tak segera ditangani. Namun, tak semua orang setuju atau memiliki keberanian untuk menerima tindakan bedah. Berkat kemajuan teknologi, beberapa langkah medis bisa saja dilalui tanpa melibatkan proses pembedahan. Kalaupun dengan operasi, dimungkinkan meninggalkan bekas sayatan yang minimal.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh oleh pasien yang enggan dengan tindakan pembedahan untuk menghancurkan batu ginjal yang bersarang di tubuhnya. Cara tersebut tergantung pada ukuran, lokasi, komposisi batu, serta pilihan pasien. Untuk batu berukuran kecil di bawah 4 milimeter, bisa dengan cara konservatif berupa obat-obatan. Obat-obatan itu bukan untuk menghancurkan batu, tapi untuk memicu urine lebih banyak sehingga harapannya batu bisa keluar bersama urine.

Persentase keberhasilan cara yang membuat batu keluar secara spontan bersama air seni itu 6o%-8o%. Itu pun dengan catatan, ukuran batu di bawah 4 milimeter. Ukuran pintu saluran kemih hanya 4 milimeter, sehingga kalau ada batu yang ukurannya lebih besar, tentu tidak akan bisa keluar dengan sendirinya.

Teknologi lain untuk menghancurkan batu tanpa operasi, lazim dikenal dengan nama terapi ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy). Teknologi itu memungkinkan penghancuran batu di saluran kemih, menggunakan gelombang kejut. ESWL termasuk terapi non invasif, kulit tubuh tidak akan terkena dampak (rusak). Teknologi ESWL generasi pertama ditemukan di Jerman dan dikembangkan di Prancis. Pada 1971, Haeusler dan Kiefer memulai uji coba secara in-vitro (dilakukan di luar tubuh) penghancuran batu ginjal menggunakan gelombang kejut.

Tahun 1974, secara resmi pemerintah Jerman memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL. Baru pada 1983, ESWL secara resmi diterapkan di rumah sakit di Jerman, kemudian digunakan di beberapa rumah sakit di Indonesia sejak 1987. Dengan alat itu, pasien hanya berbaring dan dipaparkan gelombang kejut, sebagai proses penghancuran batu. Proses penembakan gelombang kejut bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kepadatan batu. Namun, rata-rata satu jam, yang penting pasien tidak bergerak agar tidak mengubah fokus kerja gelombang kejut.

Batu yang pecah akan keluar bersama airseni. Pasien dianjarkan banyak mengonsurnsi air putih dan banyak bergerak, agar proses pengeluaran batu ginjal dapat lebih cepat. Dengan teknologi ini, pasien tidak perlu dirawat dan boleh langsung pulang.

Adapun tingkat keberhasilan pemecahan batu ginjal dengan ESWL mencapai 90%, dengan batu yang bisa dipecahkan berukuran maksimal 2 sentimeter. Jika pendertta memiliki batu besar (lebih dari 1 cm) atau tingkat kekerasan batu tinggi, biasanya penderita, tersebut membutuhkan beberapa kali terapi ESWL atau ditunjang dengan terapi lain.

Untuk kondisi tertentu seperti ukuran batu yang cukup besar dan lokasi batu yang terhalang, terapi ESWL memiliki keterbatasan. Untuk itu, penanganan batu di dalam saluran kemih juga bisa dilakukan dengan metode lain, seperti Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dan Ureterorenoscopy (URS).

Metode PCNL ini merupakan tindakan semi invasif untuk mengangkat batu ginjal yang lebih besar. PCNL di lakukan dengan anestesi atau pembiusan spinal atau umum, dengan waktu pembedahan 2-3 jam, tergantung ukuran batu. Prosedur itu melibatkan fragmentasi atau pemecahan langsung batu ginjal melalui insisi atau torehan kecil sepanjang 1,5 sentimeter di pinggang bagian belakang dengan alat nephroscope.

Batu besar dipecahkan menggunakan semacam logam panjang disertai getaran energi ultrasonik elektrohidrolik atau laser litrotriptor hingga menjadi serpihan. Dengan semacam capit di alat yang sama, batu-batu besar bisa langsung diangkat, sedangkan serpihan dibiarkan mengalir lewat saluran urine yang normal.

Sedangkan metode URS, dilakukan ketika lokasi batu tergolong sulit untuk dihancurkan melalui metode ESWL, seperti terhalang organ lain atau tulang. Alat tersebut dimasukkan melalui lubang kemih, tanpa meninggalkan sayatan.

Jika cara-cara tersebut tidak berhasil, bedah atau open surgery merupakan metode paling akhir yang dipilih.

Banyak orang menyebut batu di saluran kemih dengan istilah “kencing batu”. Itu karena terdapat batu yang ditemukan di sepanjang saluran kemih, mulai dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra (saluran kencing paling luar).

Batu yang bersarang di saluran kemih pada dasarnya terjadi karena konsentrasi urine yang pekat, sehingga terjadi pengendapan kristal yang terus membesar seiring perjalanan waktu. Pemicunya adalah gaya hidup seperti pola makan, kurangnya konsumsi cairan, dan duduk terlalu lama.

Biasanya, penyebabnya adalah multifaktor. Iklim tropis seperti di Indonesia juga bisa menjadi faktor pemantik, karena mempercepat penguapan cairan di dalam tubuh. Faktor genetis juga berperan. Tapi, batu yang terjadi karena faktor genetis biasanya terjadi pada anak-anak. Ketika terjadi di usia remaja atau dewasa, penyebabnya adalah gaya hidup.

Ada pun gejala yang menyertai, seringkali tidak menimbulkan keluhan khas yang ditemui pada setiap penderita. Sering pula ditemukan penderita yang tidak merasakan sakit atau gejala apapun. Biasanya, hal itu terjadi karena letak batu di dalam ginjal atau tidak menghalangi fungsi saluran dan kantung kencing. Meskipun demikian, keluhan yang banyak dijumpai pada penderita adalah rasa pegal atau linu di sekitar pinggang, disertai berkemih kemerahan atau keluarnya batu atau butiran pasir bersama urine.

Cara termudah mencegahnya adalah dengan minum cukup, sekitar delapan gelas atau minimal dua liter air putih sehari. Selain itu, hindari makanan yang dicap enak oleh banyak orang, seperti jeroan, kulit, kacang, soda, dan sebagainya.

Tags: #Batu #Batu Ginjal #Saluran Kemih #Teknologi Penghancur