Bagaimana Mengubah Kebiasaan Buruk, Sebuah Pengalaman Pribadi

235 views

Di dalam kereta api bisnis yang mengantarkanku ke Bandung, melintas di benakku sebuah nasihat yang pernah kubaca pada sebuah buku bacaan psikologi populer. “Tinggalkanlah kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak menguntungkan dan mulailah hidup dengan pola-pola kebiasaan baru yang lebih bermanfaat di tempat tinggalmu yang baru….” Nasihat ini benar-benar kuingat dan ingin menerapkannya di Kota Kembang, tempat menetapku yang baru.

Memang, memelihara kebiasaan buruk tampaknya lebih mudah apabila dibandingkan dengan memelihara kebiasaan yang baik. Sungguh menjadi orang yang pemalu bukanlah suatu kebiasaan yang positif. Karena sifat pemalu inilah aku menjadi kurang pergaulan dan suka mengucilkan diri. Setiap hari yang kupikirkan hanya diriku sendiri, sehingga tidak sempat sedikit pun untuk memikirkan kepentingan orang lain di sekitarku. Aku pun menjadi sangat pendiam, kecuali pada waktu dan situasi-situasi tertentu. Itulah sebabnya dunia ini terasa begitu sempit, kering dan membosankan. Hanya Tuhanlah satu-satunya tempat aku mengadu dan mencurahkan segala isi hatiku yang telah mampu mengurangi dan mengatasi stres yang timbul.

Di tempatku yang baru inilah aku memulai kebiasaan-kebiasaan baru sedikit demi sedikit. Setiap hari kuusahakan untuk berada di luar rumah, belajar menyapa dan beramah-tamah dengan orang lain. Mulanya memang segalanya terasa begitu berat, namun periahan-lahan aku mulai bisa tersenyum lebar dengan hati yang tulus dan mengenal mereka satu per satu lebih mendalam dari waktu ke waktu. Toh di tempatku yang baru ini tak ada seorang pun yang mengenal aku sebagai “anak pemalu”. Untuk membangun citra diri yang positif, aku mengambil inisiatif yang sederhana saja. Aku berusaha untuk menyenangkan anak-anak tetangga dengan bersikap murah hati kepada mereka. Akhirnya, namaku menjadi cukup populer di kalangan anak-anak tetangga, sehingga hal ini berdampak positif terhadap hubunganku dengan orangtua mereka.

Mungkin inilah bukti dari kebenaran firman Allah, “maka barangsiapa suka memberi karena bertaqwa dan membenarkan akan adanya balasan yang terbaik, niscaya Kami akan memudahkannya untuk memperoleh kemudahan-kemudahan..”. Sedikit demi sedikit sifat mementingkan diri sendiri mulai berkurang, sebaliknya seringkali aku bahkan harus lebih banyak berkorban untuk orang lain. Sebagai hadiahNya, aku bisa merasakan kebahagiaan dan menikmati indahnya mengasihi orang lain. Ternyata, sifat pemalu yang berlebihan dapat dikurangi dengan jalan lebih memperhatikan kepentingan dan kebutuhan orang lain sehingga hal ini membuat kita lupa akan kekurangan yang selama ini “menghantui” perasaan kita.

Tags: #Buruk #Kebiasaan #Mengubah #Pemalu

Leave a reply "Bagaimana Mengubah Kebiasaan Buruk, Sebuah Pengalaman Pribadi"

Author: 
    author